The Royal Meeting: Mengapa Upacara Panggih Adalah Klimaks Paling Romantis di Pernikahan Jawa

Seringkali, setelah Akad Nikah yang tegang dan sakral usai, suasana sedikit meredup. Namun, dalam tradisi Jawa, justru di situlah pertunjukan sesungguhnya dimulai.

Gamelan yang tadinya pelan berubah menjadi irama Gending Kodok Ngorek atau Kebo Giro yang rancak. Pengantin pria datang diiringi rombongan, pengantin wanita keluar dari kamar pingitan. Dan di titik tengah venue, mereka bertemu.

Itulah Upacara Panggih (Bahasa Jawa: Temu).

Bagi klien Avinci yang mencintai budaya, ini adalah momen “Cinematic” yang tak tergantikan. Ini bukan sekadar salaman. Ini adalah rangkaian ritual simbolis yang menceritakan perjalanan cinta dan komitmen rumah tangga.

Kenapa Upacara Panggih wajib ada di rundown pernikahan Jawamu? Mari kita bedah adegan per adegan.

1. Balangan Gantal: Perang Kasih Sayang

Adegan pembuka yang paling seru. Kedua pengantin saling melempar lintingan daun sirih (gantal) yang diikat benang putih.

Ini bukan tawuran, ya!

  • Pengantin pria melempar ke arah dada/jantung wanita (simbol mengambil hatinya).
  • Pengantin wanita melempar ke arah lutut pria (simbol bakti dan kesetiaan).

Filosofinya manis sekali: Meski fisik kita berbeda, namun cinta (sirih) rasanya sama pahit-getirnya. Ini adalah simbol bahwa kalian siap “saling melempar kasih” dalam mengarungi rumah tangga.

2. Ngidak Tigan & Wijikan: Simbol Tanggung Jawab

Momen dramatis berikutnya: Pengantin pria menginjak telur ayam mentah (Ngidak Tigan) dengan kaki telanjang sampai pecah.

Ini adalah simbol seksual dan keturunan. Pecahnya telur melambangkan pecahnya masa lajang dan harapan akan keturunan yang sholeh/sholehah.

Setelah itu, pengantin wanita membasuh kaki suami dengan air bunga (Wijikan). Jangan artikan ini sebagai perbudakan wanita, ya. Dalam konteks budaya luhur, ini adalah simbol penghormatan. Istri membantu suami membersihkan diri dari “kotoran” luar sebelum masuk ke dalam rumah tangga yang suci. Romantis dan penuh pengabdian.

3. Kacar-Kucur: Diplomasi Keuangan Rumah Tangga

Ini adalah ritual favorit para orang tua. Pengantin pria menuangkan kantong berisi beras kuning, uang receh, dan biji-bijian ke pangkuan pengantin wanita yang dialasi kain sindur.

Tugas istri? Menerimanya dengan hati-hati dan memastikan tidak ada satu koin pun yang jatuh tercecer.

Filosofinya dalam banget: Suami bertanggung jawab mencari nafkah (income), dan istri bertanggung jawab mengelolanya (management). Sekecil apapun rezeki yang didapat, harus dikelola dengan bijak agar cukup untuk keluarga. Sebuah financial planning versi leluhur!

4. Dhahar Klimah: Suapan Intim Terakhir

Sebelum duduk di pelaminan, ada ritual makan bersama. Pengantin pria membuat kepalan nasi kuning kecil, lalu disuapkan ke istri (atau saling suap).

Ini melambangkan kerukunan. Apapun yang terjadi, susah maupun senang, kalian akan menikmatinya bersama. “Mangan ora mangan asal kumpul” (Makan tidak makan asal bersama) bertransformasi menjadi janji untuk selalu berbagi rasa.

5. Sungkeman: Penutup yang Menguras Air Mata

Puncak dari segalanya adalah bersimpuh di kaki orang tua. Di sinilah ego runtuh. Dengan Upacara Panggih, transisi dari “Anak Bapak-Ibu” menjadi “Suami-Istri Mandiri” terasa paripurna. Doa restu orang tua di momen ini adalah bekal termahal untuk perjalanan barumu.

Ingin Panggih yang Sakral Tanpa Ribet?

Banyak pengantin takut mengadakan Upacara Panggih karena ribet menyiapkan ubarampe (peralatan) seperti pisang sanggan, kembar mayang, hingga telur ayam kampung.

Jangan khawatir. Avinci Wedding Planner yang akan menyiapkan semua detail ubarampe adat tersebut. Kami bekerjasama dengan Dukun Manten atau pemandu adat profesional, sehingga kamu tinggal mengikuti arahan dengan anggun dan menikmati setiap detiknya.

Konsultasi Paket Pernikahan Adat Jawa Lengkap

Rate this post

Tinggalkan komentar