Pedang Pora (kadang disebut pedang pura atau gapura pedang) adalah tradisi kehormatan militer yang umum dilakukan dalam upacara pernikahan prajurit atau perwira. Dalam prosesi ini, rekan-rekan militer membentuk gapura dari hunusan pedang atau sabre, lalu pasangan pengantin berjalan melewati “gerbang kehormatan” tersebut — sebuah adegan penuh simbolisme yang menandai solidaritas, penghormatan, dan penerimaan pasangan ke dalam keluarga militer.
Isi Konten
Asal-Usul & Makna
Upacara Pedang Pora berasal dari tradisi militer yang menekankan disiplin, kebersamaan, dan kehormatan. Pembentukan gapura pedang melambangkan:
- Kehormatan dan rasa hormat dari satuan terhadap rekan yang menikah;
- Solidaritas dan persaudaraan antarprajurit;
- Perkenalan pasangan ke dalam komunitas militer dan keluarga besar institusi.
Makna ini membuat Pedang Pora bukan sekadar ritual fotogenik, tapi juga simbol tanggung jawab dan kebersamaan.
Kapan dan Siapa yang Melaksanakan
Pedang Pora umumnya dilaksanakan pada momen masuk/keluar pengantin setelah upacara inti—sering kali sebagai bagian penutup prosesi resmi. Tradisi ini khas untuk anggota Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, atau institusi kedinasan tertentu (seperti taruna akademi militer/polisi) dan biasanya hanya dilakukan sekali selama rangkaian pernikahan.

Runtutan Singkat Prosesi Pedang Pora
- Para prajurit berbaris membentuk dua baris saling berhadapan.
- Hunusan pedang diangkat sehingga membentuk gapura (arch of sabers).
- Pasangan pengantin berjalan di bawah gapura, kadang diiringi penghormatan komando atau tepuk khidmat.
- Setelah melewati gapura, biasanya diikuti salam singkat, pembacaan wejangan, atau foto bersama.
Variasi bisa terjadi tergantung protokol satuan atau permintaan keluarga.
Etika, Keamanan, dan Persiapan Teknis
Karena melibatkan senjata tajam (meski biasanya tidak bermata lurus pada tamu), Pedang Pora memerlukan standar keamanan dan protokol yang ketat:
- Koordinasi dengan satuan untuk memastikan formasi aman;
- Latihan singkat sebelum hari-H agar gerakan serempak;
- Pengaturan timing dalam rundown agar prosesi tidak mengganggu alur acara lain;
- Informasi jelas kepada keluarga dan tamu tentang arti prosesi agar tersampaikan penghormatan dengan baik.

Pedang Pora dalam Pernikahan Sipil atau Lintas Budaya
Kini Pedang Pora sering tampil juga dalam pernikahan yang menggabungkan elemen militer dan sipil (mis. pernikahan pasangan beda profesi atau lintas budaya). Pendekatannya bisa disesuaikan: skala lebih kecil, pedang replika non-tajam untuk foto, atau pengaturan symbolic arch tanpa senjata asli—semua demi menjaga makna sekaligus kenyamanan tamu.
Tips Untuk Pasangan yang Ingin Menyertakan Pedang Pora
- Diskusikan sejak awal dengan satuan atau perwakilan militer mengenai protokol dan izin.
- Masukkan dalam rundown resmi agar sinkron dengan sesi foto dan doa.
- Pastikan keamanan: gunakan pedang yang sudah diperiksa dan latihan pendek untuk formasi.
- Pertimbangkan tamu non-militer: berikan penjelasan singkat di program agar semua mengerti makna prosesi.
Ingin menghadirkan prosesi Pedang Pora yang khidmat dan berkelas?
Percayakan perencanaan dan koordinasinya kepada Avinci Wedding Planner. Kami siap memastikan setiap detail berjalan sempurna.