Susunan Acara Wedding Adat Jawa Modern yang Bisa Menjadi Referensi

Merencanakan pernikahan adat Jawa modern seringkali menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi calon pengantin atau pasangan yang akan menikah. Di satu sisi, mereka berkeinginan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya serta kesakralan dari setiap prosesi atau acara yang diadakan. Namun di sisi lain, mereka juga ingin acara yang lebih ringkas, efisien, dan sesuai dengan tren pernikahan saat ini. Kebingungan dalam menetapkan urutan acara atau prosesi, menyelaraskan durasi, hingga memenuhi ekspektasi keluarga membuat banyak pasangan memerlukan panduan yang jelas dan mudah dipahami tentang rangkaian acara.

Apa saja prosesi yang perlu dilakukan?

Dalam pernikahan adat Jawa modern, tidak semua rangkaian adat harus dilaksanakan secara lengkap dan utuh. Pasangan bisa menyesuaikannya dengan waktu, konsep acara, dan kesepakatan keluarga. Namun, secara umum berikut adalah susunan acara wedding adat Jawa modern yang paling sering digunakan.

1. Persiapan Sebelum Hari Pernikahan

– Siraman

Siraman berarti “mengguyur”. Siraman menjadi simbol penyucian diri secara lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru. Prosesi yang dilakukan sebelum ijab kabul ini bertujuan untuk membersihkan segala hal negatif yang dapat mengganggu proses pernikahan. Pelaksanaan siraman ditentukan pada jam 10.00 hingga 15.00 WIB. Waktu ini diyakini bahwa bidadari sedang turun ke sungai untuk mandi dan bersamaan dengan waktu tersebut, diharapkan agar pengantin wanita tampak cantik seperti bidadari.

– Midodareni

Urutan selanjutnya adalah midodareni yang dilangsungkan pada malam menjelang akad nikah. Midodareni melambangkan doa dan harapan agar pengantin mendapatkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Prosesi ini terdiri dari serangkaian acara yaitu jonggolan atau seserahan, tantingan, kembar mayang, catur wedha, dan majemukan.

  • Jonggolan

Calon mempelai pria beserta keluarga mengunjungi rumah calon mempelai wanita. Ritual ini menjadi simbol kesiapan dan kesungguhan untuk meminang. Seserahan yang dibawa berjumlah ganjil berisi makanan dan kebutuhan sehari-hari.

  • Tantingan

Pada ritual ini orang tua menanyakan keputusan calon mempelai wanita terkait lamaran. Calon mempelai wanita menyatakan menerima atau menolak lamaran. Jika menerima, keputusan diambil dengan ikhlas dan mendapat restu keluarga.

  • Kembar Mayang

Kembar Mayang adalah hiasan adat Jawa berbentuk sepasang rangkaian dengan tinggi menyerupai manusia. Terdiri dari Kalpandaru yang melambangkan kelanggengan rumah tangga dan Dewandaru yang melambangkan tanggung jawab suami sebagai pelindung keluarga.

  • Catur Wedha

Orang tua memberikan nasihat sebagai bekal membangun rumah tangga. Berisi empat pedoman kehidupan berkeluarga: Hangayomi: melindungi dan mengayomi; Hangayani: menyejahterakan keluarga; Hangayemi: menciptakan rasa aman dan nyaman; Hanganthi: memimpin keluarga dengan tanggung jawab. Catur Wedha biasanya diberikan dalam bentuk pigura yang kepada calon pengantin pria.

  • Majemukan

Menjadi penutup rangkaian Midodareni sekaligus ajang silaturahmi dua keluarga, Majemukan melambangkan keikhlasan orang tua melepas anak menuju kehidupan berumah tangga. Calon mempelai wanita menyerahkan seserahan kepada calon mempelai pria, termasuk pakaian atau pusaka seperti keris sebagai simbol tanggung jawab suami melindungi keluarga.

2. Akad Nikah

Akad nikah merupakan inti dari seluruh rangkaian pernikahan. Pada momen inilah pasangan resmi menjadi suami istri secara agama dan hukum. Meskipun mengusung konsep adat Jawa modern, akad tetap menjadi prosesi yang paling sakral dan biasanya berlangsung sebelum prosesi adat lainnya.

3. Panggih

Prosesi yang masih sering dipertahankan dalam susunan acara wedding adat Jawa modern ialah panggih. Panggih adalah momen pertemuan resmi antara pengantin pria dan wanita sebagai simbol bersatunya dua insan dan dua keluarga. Dalam prosesi panggih terdapat beberapa rangkaian simbolis seperti:

– Balangan gantal

Ritual saling melempar gulungan daun sirih sebagai lambang kasih sayang dan tekad membangun rumah tangga.

– Ngidak endhog

Pengantin pria menginjak telur yang kemudian kakinya dibasuh oleh pengantin wanita sebagai simbol awal kehidupan baru dan tanggung jawab dalam keluarga.

– Sinduran

Kedua mempelai berjalan bersama di bawah kain sindur yang dipandu orang tua sebagai simbol bimbingan menuju kehidupan rumah tangga.

– Kacar-kucur

Pengantin pria menuangkan berbagai hasil bumi ke pangkuan pengantin wanita sebagai lambang tanggung jawab suami dalam memberikan nafkah dan kesejahteraan keluarga.

– Dulangan

Kedua mempelai saling menyuapi sebagai simbol kebersamaan, kasih sayang, dan saling mendukung dalam kehidupan rumah tangga.

4. Sungkeman

Prosesi sungkeman menjadi salah satu momen yang paling mengharukan dalam pernikahan adat Jawa. Dalam prosesi ini, kedua mempelai bersimpuh di hadapan orang tua untuk memohon doa restu. Prosesi ini hampir selalu dipertahankan karena memiliki makna emosional yang mendalam.

5. Resepsi

Resepsi merupakan momen bagi pasangan untuk menyambut dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga, sahabat, serta para tamu undangan. Susunan acara resepsi umumnya meliputi sambutan, sesi foto bersama, hiburan, makan bersama, hingga ramah tamah.

Demikian pembahasan mengenai susunan acara wedding adat Jawa modern yang dapat menjadi referensi bagi Anda dalam merencanakan hari pernikahan. Apabila Anda menginginkan pernikahan adat Jawa modern yang terencana dengan baik, Avinci Wedding Planner siap menjadi partner dalam setiap tahap persiapannya. Mulai dari menyusun konsep acara, mengatur rundown prosesi adat, berkoordinasi dengan vendor, hingga memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar pada hari pernikahan. Dengan fleksibilitas dalam perencanaan, setiap konsep dapat disesuaikan dengan keinginan calon pengantin tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya yang ingin dipertahankan. Bersama Avinci Wedding Planner, wujudkan pernikahan adat Jawa modern yang sakral, elegan, dan meninggalkan kesan indah bagi Anda maupun seluruh tamu yang hadir.

Rate this post

Tinggalkan komentar