Apa Sih Perbedaan Siraman Adat Jawa dengan Siraman Adat Sunda?

Prosesi siraman adat sunda dan jawa – Upacara siraman ini berasal dari kata dasar siram (Jawa) yang berarti mandi. Sedangkan maknanya sendiri adalah memandikan calon pengantin agar kembali bersih dan suci.

Di masa sekarang ini prosesi ini masih sangat di sukai oleh para pengantin yang akan melangsungkan pernikahan sebagai salah satu prosesi yang di inginkan untuk di adakan.

Selain melestarikan adat, faktor dokumentasi juga jadi hal yang di pertimbangkan dalam mengadakan acara siraman ini.

Prosesi siraman tidak hanya digunakan di pernikahan adat Jawa saja tetapi pernikahan adat Sunda juga terdapat prosesi siraman. Apasih yang membedakan keduanya? Ini dia..

1. Siraman Adat Jawa


Sungkeman

Pada adat Jawa, prosesi siraman ini akan dimulai dengan sungkeman dengan orang tua calon pengantin. Saat sungkeman, calon pengantin sekaligus meminta izin untuk menikah dengan orang yang telah dia pilih sebagai pasangan hidup. Suasana haru akan sangat terasa di ritual ini.

Siraman

Selanjutnya ialah tahap siraman di mana calon pengantin akan disiram dengan air yang diambil dari tujuh sumber dan sudah ditaburi kembang setaman.

Yang bertugas menyiram harus berjumlah ganjil, dimulai dari ayah, ibu, lalu beberapa orang yang dituakan dan diakhiri dengan juru rias.

Siraman adat jawa

Gendongan

Prosesi siraman tak sampai di situ saja. Calon pegantin akan digendong sang ayah menuju kamar pengantin untuk melakukan prosesi ngerik.

Di sini calon pengantin akan dibersihkan rambut-rambut halusnya oleh perias. Upacara ini berlaku untuk calon pengantin pria dan wanita yang akan dilaksanakan di rumah masing-masing.

Setelah menyiapkan segala perlengkapan siramannya, saatnya Anda menaburkan bunga setaman ke dalam bak yang berisi air dingin atau hangat. Selanjutnya, dua butir kelapa yang masih ada sabutnya diikat menjadi satu lalu dimasukkan ke dalam air tersebut.

Calon pengantin yang sudah mengenakan busana siraman lengkap, dijemput dan dibimbing orang tua menuju tempat siraman.

Di belakang mereka ada pengiring yang membawakan baki berisi seperangkat kain yang terdiri dari sehelai kain motif grompol, sehelai kain motif nagasari, handuk dan pedupan.

Guyuran

Lalu, siraman akan diawali dengan doa menurut kepercayaan masing-masing diikuti dengan guyuran air siraman pertaman oleh orang tua calon pengantin dilanjut beberapa orang yang ditunjuk.

Setelah badan dikira bersih, air tersebut juga digunakan untuk berkumur, membersihkan wajah, telinga, leher, kaki dan tangan masing-masing 3x. Jangan lupa diikuti juga dengan doa oleh calon pengantin.

Akhir dari acara siraman ini adalah ketika juru rias mengucapkan kalimat sudah berakhir masa remajanya sambil memecahkan kendi di hadapan calon pengantin yang disaksikan kedua orang tua dan kerabat lainnya.

2. Siraman Adat Sunda

Ngengcangkeun aisan

Berbeda dengan siraman adat Jawa, siraman adat Sunda ini memiliki tahap pertama dari ngengcangkeun aisan dengan ritual sang ibu akan melepaskan gendongan menuju tempat siraman ditemani sang ayah yang mendampingi dengan membawa lilin.

Makna dari tahap ini adalah kedua orang tua akan segera mengakhiri tanggung jawab mereka dan akan digantikan oleh calon suami.

Credit Foto : David salim

Pangkon

Tahap selanjutnya yaitu dipangkon. Di sini, calon pengantin akan dipangku oleh kedua orang tuanya lalu calon pengantin akan membasuh kaki mereka (ngaras).

Lalu, calon pengantin akan disemprot dengan minyak wangi agar bisa selalu mengharumkan nama keluarga.

Selanjutnya, calon pengantin akan melewati tujuh lembar kain yang menyiratkan permohonan untuk selalu sabar, sehat, bertaqwa, tabah, beriman dan istiqamah.

Akhirnya sampailah pada prosesi siraman. Sama seperti adat Jawa, di sini calon pengantin akan disiram dengan air yang sudah ditaburi kembang setaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *